![]() |
| WONDERFUL: Keindahan alam Kawah Wurung kini mulai masyhur dan banyak dikunjungi para wisatawan. Namun muncul ancaman kelestarian kawasan ini yakni banyaknya tumbuhan akasia berduri (Acacia nilotica) |
Sejauh mata memandang bentang alam hijau dan langit yang biru adalah sajian utama pemandangan di Kawah Wurung. Bahkan kuda dan sapi tampak bekeliaran di antara hijaunya padang savana. Namun siapa sangka indahnya Kawah Wurung bisa jadi terkikis oleh tanaman invansif, yakni akasia berduri (Acacia nilotica) yang mengancam habitat padang savana.
Kemunculan akasia niltica ini diketahui langsung oleh Administratur Perhutani KPH Bondowoso, Adi Winarno. Selaku pemangku kawasan, dia mengatahui adanya tumbuhan akasia beberapa bulan lalu saat penandatanganan kesepakatan pengembangan wisata di Kawah Wurung dengan Pemkab dan sejumlah instansi terkait.
Adi yang berangkat bersama rombongan perhutani Bondowoso serta keluarga dari Guest House Jampit, mengetahui tanaman tersebut dari atas mobil. "Saya tahu itu pertama dari istri saya. Lho yah ada tanaman akasia seperti di baluran. Saya perhatikan, benar Acacia nilotica yang mempunyai duri," ungkapnya.
Acacia nilotica, kata dia, bukan tanaman endemik yang tumbuh di suatu tempat. Bisa jadi kemunculan akasia di Kawah Wurung disebabkan oleh burung yang transmigrasi sambil bawa bibit, atau karena angin. "Tanaman ini aslinya dari Australia, bisa jadi karena burung yang transmigrasi melewati Kawah Wurung," paparnya.
Tanaman tersebut, kata dia, termasuk tanaman yang kuat dengan kondisi apapun dan mudah tumbuh di mana-mana. Untuk diketahui, permasalahan Taman Nasional Baluran hingga saat ini berlum terselesaikan gara-gara akasia yang invansif ke padang savana hingga membuat padang savana ini menyempit.
"Dibakar, dipotong, diberi obat hingga mendatangkan bego untuk mengeruk hingga akar Tapi belum menemukan solusinya akasia di Baluran," katanya. Padahal tamanan ini ditanam sengaja untuk sekat bakar, tapi menjadi masalah di Baluran.
Jika keliling ke Kawah Wurung, kata Adi, di mana padang savana mulai kering ada tamanan masih hijau dan beriduri itulah akasia si tanaman invansif. "Musim kering, hanya akasia bertahan. Daun masih hijau dan buahnya terus tumbuh. Yang dikhawatirkan adalah hewan ternak memakan buahnya, dari kotoran hewan itu mulai penyebaran akasia seperti di Baluran" jelasnya.
Namun sampai saat ini Perhutani membutuhkan penelitian lebih lanjut terkait tanaman akasia yang ada di Kawah Wurung, apa sama karakter dan invansif seperti di Baluraun apa tidak. "Tidak usah ijin, langsung potong tanaman akasia di Kawah Wurung tidak apa-apa. Asalkan merugikan, dan itu masih kita teliti lebih lanjut" imbuhnya.
Secara pribadi dia tidak ingin asri dan alaminya Kawah Wurung mulai ternodai, bahkan saat pengembangan menjadi destinasi wisata tetap tidak merubah bentang alam dan tetap ada jalur khusus jika para trail, kuda, dan sepeda hendak melintasi seluruh kawasan Kawah Wurung.

No comments:
Post a Comment